50 PENYANDANG DIFABEL IKUTI PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN DI PAGUYUBAN DIFABEL

KIM-RODOWO, – MALANG, – Mengedepankan peningkatkan produktivitas difabel warga Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang, Paguyuban Difabel menggelar pelatihan kewirausahaan.
Anggota difabel warga masyarakat Kelurahan Oro-oro Dowo, sebanyak 50 orang difabel yang mengikuti pelatihan tersebut yang diadakan di Kantor Kelurahan Oro-oro Dowo. Jumat, (3/3/2023)
Kegiatan ini terselenggara sesuai dengan pengajuan dalam Musrenbangkel tahun lalu, terkait pelatihan dan pemgajuan sarana prasarana bagi kebutuhan khusus di lingkungan paguyuban difabel Kelurahan.
Kepala Pemerintahan Kelurahan atau disebut Lurah, Bapak Solikin, selaku Lurah Kelurahan Oro-oro Dowo Membuka acara pelatihan kewirausahaan bagi anggota paguyuban difabel sebanyak 50 orang anggota.
Solikin, Lurah Oro-oro Dowo menyampaikan bahwa pelatihan digelar untuk mengembangkan ekonomi para anggota difabel.
Menurutnya, saat ini, kegiatan kemasyarakatan khususnya difabel dan menghadapi ekonomi pasca pandemi covid-19 sudah dimulai, setelah sempat mengalami kesulitan selama pandemi, paguyuban difabel harus bangkit berkembang.
“Kita harus bangkit dan berkarya, hari ini merupakan kesempatan bagi penyandang difabel untuk berkarya dan berwirausaha. Semoga dengan pelatihan ini akan membawa manfaat bagi kita semua,” pesan Solikin.
Kadir Wahyudi selaku ketua Paguyuban Difabel menyampaikan dalam sambutannya bahwa kaum difabel yang memiliki kekurangan baik fisik maupun non-fisik yang terdapat pada anggotanya untuk tidak berkecil hati apalagi minder hidup di tengah-tengah masyarakat hitrogen seperti masyarakat Oro-oro Dowo.
Yang non-fisik/mental, pujian yang didampaikan oleg Kadir, bahwa luarbiasa bagi orang tua yang tegar dan sabar membimbing putra-putrinya untuk hidup bersosialisasi di tengah-tengah masyakat luas. Kita adalah mereka dan merwka adalah kita.
“Kita tidak sendiri, kita ada bersama mereka yang mempunyai fisik yang tidak ada kekurangan. Tetapi mereka hadir di tengah kita untuk saling membatu, bahwa kita hidup bergotong-rotong dan tidak ada sekat perbedaan,” tuturnya.

“Marilah kita gali potensi diri kita yang sebenarnya ada rahasia kemampuan kita yang belum terungkap. Jangan putus asa atau minder hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat di mana kita hidup bersosialisasi. Ayo kita tunjukkan bahwa kita bisa bersama mereka,” tegasnya.
Pravissi Shanti, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), memberikan motivasi dsn materi kewirausahaan pada anggota paguyuban difabel sebanyak 50 orang anggota.
“Prinsipnya, bagaimana disabilitas bisa produktif ke depannya. Yang penting ada kemauan dulu, baru berinovasi bagaimana usaha kita untuk kita kembangkan,” jelas Dosen Cantik itu.
Dia menambahkan, pihaknya membuka peluang untuk memberikan pelatihan kepada komunitas atau paguyuban difabel terkait usaha apa saja.
“Untuk sekolah di Universitas, tentu saja yang berprestasi, Insyaallah kami bisa membantu untuk bisa masuk di Universitas Negeri Malang (UM). Memang ada kemudahan beberapa fakultas yang dibuka untuk warga difabel,” tuturnya.
Menurutnya, dia memberikan banyak contoh bahwa kaum difabel yang sudah berhasil ketika mereka terjun di dunia usaha, baik yang tuna rungu, tuna netra, tuna grahita dan lainnya, banyak yang sukses.
“Sampai saat ini sudah banyak penyandang difabel yang sudah sukses, yang mampu membuat produk dan menjualnya. Untuk itu, para peserta diminta bersemangat dalam berwirausaha. Dan jangan pernah putus asa, teruslah berjuang,” tutupnya. (Qq/awik/putri/dina/atta/kdr)
Penulis: Rizkq, awik, putri, dina, atta, kadir
Editor : sandy maulana
